Pendaftaran Online

Call For Pappers

E-tourism

Denpasar-Seorang alumni STIKOM Bali program internasional yang kini berbisnis website, Putu Aditya Santana, S.Kom., BIT mengaku, bisa bertahan dan sukses mengelola bisnisnya,  Bosweb, di tengah gencar kecaman orang atas usahanya ini karena sikapnya yang masa bodoh alias cuek. Putu Aditya Santana mengisahkan, begitu dia memulai usaha jasa pembuatan web dengan harga murah, berkisar  Rp 1,5 juta rupiah, banyak pengusaha sejenis yang sudah duluan eksis mulai mengecamnya. Dia dianggap merusak harga pasaran pembuatan website yang sebelumnya rata-rata di atas Rp. 2 juta. Kecaman itu  bahkan secara masif terutama melalui jejaring sosial dan blog-blog pribadi.

“Tapi saya tak menanggapi semua itu. Saya cuek saja, kepada staf, saya bilang  gak usah ditanggapi, kita cuek saja, toh bukan mereka yang kasih makan kita,” kata Putu Aditya Santana ketika tampil sebagai narasumber kedua dalam seminar IT Entrepresunership di aula STIKOM Bali, Jumat (20/05/16) malam. Karena itu dia meminta kepada mahasiswa STIKOM Bali, kalau mau terjun dalam bisnis apapun, tidak perlu mennanggapi suara-suara sumbang dari perusahaan sejenis yang menjadi pesaing. Dia mengisahkan, usahanya bermula ketika dia tamat di STIKOM Bali tahun 2013 lalu. Sebagai anak seorang pegawai PT Telkom, Putu Aditya Sanatana juga sangat ingin bekerja di PT Telkom. “Saya memang lirik Telkom,  saya lamar tapi saya sadar IP  kecil, gak bakalan diterima. Benar saja, berbulan-bulan gak dipanggil. Saya mulai lirik tabungan saya, ada saldo 200 juta, dari situlah saya memberanikan diri berbisnis sendiri, dan terbukti berhasil,” ceritanya. 
Pertanyaannya, dari mana dia mendapat modal Rp 200 juta tadi? Putu Aditya melajutkan ksiahnya.
 
“Selama kuliah, saya mulai belajar bikin web. Kalau di kampus teman-teman sibuk main Dota, di warung juga sibuk bicara Dota, saya jadi malas bergaul dengan mereka. Akhirnya  saya jarang kuliah,  waktuku habis di kamar kos untuk belajar buat web. Setelah bisa bikin web, saya mulai ceritra di kampung saya, Singaraja, saya bisa buat web. Yang pesan pertama adalah paman saya. Tapi begitu jadi web, saya bingung nentuin harga, akhirnya paman saya yang nentuin harga Rp 800 ribu. Kalau sebelumnya seminggu dikasi uang saku oleh orang tua Rp 150 ribu, sekarang dapat Rp 800 ribu, senang bukan main,” kisahnya. Dari situ cerita mulai berkembang. Dalam waktu singkat, pesanan mulai berdatangan.  Dari perusahaan kecil hingga perusahaan besar, termasuk pemerintahan. “Terakhir, sebelum tamat, saya dan kawan-kawan membuat website sistem online perpajakan untuk Pemkab Karangasem.  Itu bayaran yang paling besar,” kata Putu Aditya Santana tanpa menyebut nilainya. “Ternyata di saldo rekening saya sudah ada uang Rp 200 juta. Itulah yang saya pakai untuk memulai bisnis Bosweb yang beralamat di Jl. Mahendradata No.238 Denpasar Barat,” bebernya..
 
Selain berceritra tentang pengalaman pribadinya, tak lupa Putu Aditya Santana juga memberikan tips bagi mahasiswa STIKOM Bali jika memulai atau start up  sebuah bisnis. Disebutkan, ada perbedaan antara  start up bisnis konvensional dengan start up  bisnis IT. “Untuk start up  bisnis IT kita memerlukan sebuah tim, tidak bisa bekerja sendiri, sasaran profitnya  jangka panjang, dan perlu penyempurnaan sistemnya dari waktu-ke waktu. Jadi jangan putus asa kalau belum ada kelihatan hasilnya dalam jangka pendek,” tegasnya. Itu berbeda dengan start up  warung atau rumah makan.”Kita sendiri bisa buka warung makan, keuntungan berapa hari itu kita sudah tahu,”  tukasnya.
 
Menurutnya ada dua sistem dalam dunia start up. Pertama sistem horizontal, yakni mengamati sebuah produk IT, lalu memodifikasinya menjadi produk baru. “Ada kue terkenal di Bandung, bisa dibuat di Bali dengan sedikit sentuhan lain, akhirnya menjadi produk Bali,”  dia memberi contoh.  Kedua, sistem vertikal yakni menciptakan produk sendiri yang memungkinkan dapat dikembangkan terus ke atas atau ke depannya. Intinya, kata Putu Aditya Santana, harus berani memulai start up. (rsn)